Menginjakkan kaki pertama kali di Gedung TES Tsunami, saya melihat banyak sekali pekerja. Gedung itu luas, besar dan berlantai empat. Tiang-tiang penyangganya pun besar-besar dan terlihat kokoh.
01 – Rubrik
-
-
Mencari Ruang, Mencari Rumah
Tanah dan ruang-ruang kita bukanlah tanah dan ruang bermuka “horor”, seperti yang dialami orang-orang macam Banksy di seberang lautan sana. Tanah di lingkungan masyarakat kita masih ada tradisi “pemakluman” asalkan “saling mengenal”.
-
Bangalore dari Kacamata Saya, Orang Jakarta
Bangalore memang sebuah kota yang unik dan tampaknya menjadi salah satu kebanggaan warga India. Selain karena potensi geografis yang dijelaskan Shai waktu itu, keberadaan banyak taman kota dan ruang hijau, membuat kota ini dikenal sebagai The Garden City sejak era 1800-an.
-
Letusan di Riaknya Danau
Benar, terdengar. Di tengah danau sana, seseorang telah melempar bom dan membuat air meloncat ke atas. Tidak tahu kemana perahu itu akhirnya berhenti, hanya ada satu ledakan malam itu.
-
Menghilangnya Pasar Bambu
Masalahnya sekarang adalah sumber bambu sudah jarang. Akibatnya, pemilik bambu harus menjual lebih mahal karena sekarang banyak didatangi pengusaha Jakarta yang langsung ke rumah pemilik pohon bambu.
-
‘Hari-Hari’ Para Penjual Jasa
Bangsal ini merupakan aset dan gate, pintu gerbang pariwisata Lombok Utara menuju Tiga Gili itu. Dalam satu hari, ratusan juta bisa didapat. Jika tidak dikelola dengan baik, maka kita akan menjadi penonton di Bangsal.
-
Aktivasi Ruang Demi Seni Sehari-hari
Anak muda itu, butuh sesuatu...membuat yang baru, yang bisa menjauhkannya dari ketidakpercayaan diri atas definisi-definisi seni yang mapan, dan mendekatkannya kepada warga yang selalu siap berpartisipasi, untuk mewujudkan seni yang sifatnya lebih sehari-hari.
-
Bilih: Ikan Kecil Kita yang Hampir Habis, dan Keluarganya Di Perairan Toba
Para nelayan ini sengaja menghindari saya. Mereka, barang kali, mengira saya adalah petugas pemantauan nelayan danau.
-
Kisah Tanah-Tanah Tak Bertuan
Janganlah heran jika suatu ketika datang seorang pengemis bertanya kepada Anda—seperti sebuah lelucon yang pernah saya baca dalam sebuah komik—dan berkata, "Maukah Anda menukarkan mobil mewah Anda dengan sandal jepit saya?"
-
Jembatan Dua
Saya tidak menyeberang sendirian. Ada orang-orang yang berjalan di belakang saya, mengular menyusuri balok jembatan rel kereta yang menganga. Sesekali, mata saya melihat dasar jembatan dengan pemandangan air Sungai Ciujung yang keruh dan mengalir pelan. Jika terlalu lama melihat ke bawah, kepala saya langsung terasa pusing.