DIORAMA merupakan sebuah platform khusus yang digagas dan mulai dijalankan oleh Forum Lenteng pada tahun 2016 melalui program akumassa. Platform ini berfokus pada artefak-artefak sejarah di Indonesia yang merepresentasikan relasi dan praktik kekuasaan. Artefak-artefak tersebut dikaji serta ditafsirkan ulang melalui pendekatan seni visual dan media.
Melalui kerja-kerja tersebut, DIORAMA berupaya mengembangkan metode pembacaan yang mampu membentuk suatu tatanan gagasan dan gaya ungkap (bahasa) yang layak dijadikan rujukan dalam memahami sejarah, sekaligus berbagai persoalan sosial-budaya yang menyertainya. Dengan demikian, platform ini berfungsi sebagai jembatan yang mempertemukan artefak-artefak sejarah dengan masyarakat, dengan cara pandang yang lebih kritis dan kontekstual.
Produk media dan karya visual yang dihasilkan DIORAMA ditujukan sebagai tawaran perspektif alternatif yang menempatkan sudut pandang warga sebagai pijakan utama. Pada saat yang sama, karya-karya tersebut diposisikan sebagai produk pengetahuan yang dapat diakses secara terbuka oleh publik.
Dalam proyek DIORAMA yang pertama, yang berlangsung pada September–November 2016, para partisipan yang terlibat antara lain Albert Rahman Putra (Komunitas Gubuak Kopi, Solok, Sumatera Barat), Yonri Revolt (Komunitas Yoikatra, Timika, Mimika), serta beberapa anggota Forum Lenteng, antara lain Rayhan Pratama, Pingkan Polla, Afifah Melisa, Anggaeni Widhiasih, Dhuha Ramadhani, Ragil Dwi Putra, Ika Yuliana Nasution, Ryani Sisca Pertiwi, dan Andreas Meiki.
Selama kurang/lebih dua bulan, para partisipan melakukan riset di sejumlah lokasi, termasuk area Diorama Museum Sejarah Nasional, Monumen Nasional, serta beberapa lembaga arsip lainnya di Jakarta. Proses riset tersebut diperdalam melalui rangkaian diskusi, focus group discussion (FGD), dan kuliah umum yang melibatkan para profesional lintas disiplin, antara lain Cecil Mariani, Mahardhika Yudha, Akbar Yumni, Hikmat Budiman, dan Irwan Arhmett.
Luaran dari proyek DIORAMA pertama ini dipresentasikan kepada publik dalam pameran bertajuk “DIORAMA: Sejarah Adalah Fiksi”, yang diselenggarakan di Hall A1, Gudang Sariah Ekosistem, Pancoran Timur, Jakarta Selatan, pada 17–27 November 2016. Pameran tersebut dikuratori oleh Otty Widasari.
Artikel Terkait
-
Fiksi Sempurna Orang Ketiga yang Maha Tahu
Dalam kisah yang ia tuturkan, ada drama. Diwakilkan dengan dimensi gerak yang menggambarkan realita kehidupan nyata. Ada tingkah polah manusia melalui peran-perannya. Ada dialog tentu saja, yang dipungutnya dari peristiwa-peristiwa…
-
Persepsi Dimensi Bolak Balik
Melalui keterbatasan tersebut dalam proyek kali ini, keterbatasan itu justru memberikan kami kesempatan dalam membuat narasi yang baru dengan cara melakukan pembesaran. Dengan kamera dan lensa tele, saya bermain-main melalui…
-
Gegar Balik Narasi
Sekalipun bentuk diorama ialah visual tiga dimensi yang bisa dilihat dari berbagai macam sudut, namun rupanya ragam pandangan spektator terhadap diorama tak sekaya yang dikira. Kehadiran kaca betul-betul membatasi pengalaman…
-
Kejelitaan yang Disunting
Dalam beberapa kali kunjungan ke Museum Nasional di Monas, Jakarta, saya menikmati bagian-bagian diorama yang ada di sana, sebagaimana sebagian besar pengunjung lainnya.
-
Jembatan Transparan
Saat saya kembali melihat diorama Monas, tak dapat disangkal bahwa kepala ini penuh dengan recall memory akan pengetahuan sejarah yang sudah dipelajari dari bangku sekolah maupun dari buku-buku lain.
-
Vending Machine dan Diorama: Pertarungan Produk Lama dan Produk Baru
Penelitian awalku di diorama adalah terkait dengan usaha melihat adanya potensi-potensi narasi di luar dari tema besar yang disajikan.
-
Mengalami Sejarah: Menubuh atau Berjarak?
Apa-apa yang disuguhkan di diorama kemudian dimaknai oleh konteks jaman sekarang: ada pelibatan “aku”, bersifat tidak berjarak (membicarakan kejadian masa lampau tdan menarik langsung relevansi dengan jaman sekarang –namun bentuknya…
Dokumentasi Pameran Diorama: Karena Sejarah adalah Fiksi

































