Seperti yang saya sebutkan di awal tulisan, saya tidak banyak mengalami peristiwa-peristiwa menarik di Bangalore. Namun, berdasarkan pengalaman ketubuhan yang saya dapatkan ketika menaiki taksi setiap hari di Bangalore—setidaknya, saya dengan sadar merasakan buruknya kondisi jalan dan sesaknya kota Bangalore yang macetnya sebelas-duabelas dengan Jakarta—dan pengalaman diskursus pada penayangan dan diskusi filem-filem di Experimenta—terutama, diskusi yang demikian sensitif pada acara penayangan Court—saya berani menarik satu kesimpulan tentang Bangalore. Bahwa, terlepas dari prestise yang dimiliki warganya, kota ini seolah-olah sedang berada di ambang keyakinan akan statusnya sebagai kota kosmopolitan.
Sebagaimana Jakarta, tuntutan untuk menjadi kota yang mengglobal masih tersendat oleh persoalan infrastruktur dan kepentingan kelompok. Beberapa sumber di internet yang menyatakan betapa Bangalore telah menjadi sebuah wilayah yang canggih dengan fasilitas teknologi di sana-sini, bertolak belakang dengan pengalaman nyata saya—meskipun memang, pengalaman ini masih sangat kurang untuk diklaim representatif. Dengan nama yang telah menginternasional itu, Bangalore masih perlu mengatasi persoalan di sektor transportasi yang masih jauh dari kata baik, dan butuh bernegosiasi dengan masalah sentimen kesukuan yang kental di kehidupan warganya.∎
Biografi Penulis
Manshur Zikri
Manshur Zikri (lahir 1991 di Pekanbaru, Indonesia) adalah seorang seniman, kritikus, dan kurator yang saat ini berbasis di Yogyakarta dan Lombok Utara. Praktik lintas-disiplinnya mencakup riset artistik, strategi kuratorial, kerja editorial, serta produksi kultural eksperimental, dengan perhatian berkelanjutan pada wacana audiovisual dan sistem pengetahuan alternatif.
Ia merupakan lulusan Kriminologi Universitas Indonesia (2014) dan telah aktif terlibat dalam Forum Lenteng sejak 2009. Pada periode 2020–2022, Zikri menjabat sebagai kurator di Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat, berkontribusi pada praktik kepameran, program berbasis riset, serta pengembangan wacana institusional dalam ekologi seni kontemporer Indonesia.
Saat ini, Zikri memimpin Jurnal Footage, sebuah platform yang berfokus pada keterlibatan kritis terhadap budaya audiovisual. Ia juga terlibat dalam sejumlah inisiatif kolaboratif, antara lain Council of Ten, Situationist Under-Record, dan PROYEK EDISI, yang masing-masing menyelidiki keterjalinan sosial, historiografi performatif, serta ekologi media spekulatif melalui praktik kolektif.
Seiring dengan kerja kuratorial dan editorialnya, Zikri berafiliasi dengan 69 Performance Club dan dikenal melalui komentar kebudayaannya yang disebarluaskan lewat kanal TikTok @ngomendotcom, tempat ia bereksperimen dengan bentuk-bentuk kritik vernakular dalam ruang publik digital. Pada tahun 2025, ia bertindak sebagai kurator Bangsal Menggawe: Ando Kayuq Aiq, sebuah program budaya berbasis komunitas yang diinisiasi oleh Pasirputih di Pemenang, Lombok Utara—yang dirancang sebagai forum berkelanjutan bagi pengetahuan terletak, kosmopolitanisme rural, serta praktik seni lintas-generasi di wilayah pinggiran Indonesia.

