Namanya Tanah Hitam. Sebuah kecamatan di kaki Bukit Tui, sebuah bukit kapur yang ditambang masyarakat sebagai sumber penghidupan. Pada 1987 terjadi peristiwa longsor yang dahsyat. Masyarakat setempat menyebutnya ‘Galodo’. Ada banyak korban berjatuhan di saat itu, dan ada banyak kisah tersimpan di sana.




Masyarakat percaya bahwa peristiwa Galodo yang terjadi pada Bulan Mei 1987 itu adalah akibat perilaku manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab dalam keselarasan hidup dengan alam. Maksiat dan perjudian, adalah dua hal yang paling disesalkan oleh para tetua sebagai penyebab musibah yang menelan korban ratusan orang.

Bukit Tui cuma berjarak sekitar 30 meter dari perumahan di pinggir Tanah Hitam. Sangat rawan untuk jadi pemukiman. Selain gundul, tebing itu sangat curam, dengan kemiringan sekitar 80 derajat. Bukit Tui sangat penting bagi penduduk Tanah Hitam. Sudah sejak 1912 penggalian batu kapur dilakukan di kaki bukit dan menjadi mata pencarian utama penduduk sekitar.



Dulunya bukit itu ditumbuhi banyak pohon Tui. Namun akibat terlalu banyaknya pondok pembakaran kapur di kaki bukit, kawasan itu menjadi gundul dan kondisi bukit yang terus terkikis. Itulah sebenarnya penyebab utama terjadinya longsor berkali-kali di Tanah Hitam.


Ironisnya, selain memakan banyak korban masyarakat sekitar, mereka juga berpendapat longsor membawa berkah karena ada banyak batu kapur yang berjatuhan. Batu yang berasal dari Bukit Tui dikenal sebagai bahan baku ubin teraso berkualitas tinggi. Satu bongkah batu besar sama harganya dengan seekor kerbau.
Artikel ini merupakan bagian dari kumpulan teks-teks akumassa yang pernah dipamerkan dalam bentuk text-imageoleh Forum Lenteng pada Images Festival 2011. Cerita tentang akumassa di Images Festival dapat dilihat dalam tulisan David Darmadi, berjudul Kabar dari Toronto: Pembukaan Pameran akumassa dan Kabar dari Toronto: Malam Penganugerahan Images Festival. Foto-foto yang dimuat dalam artikel ini berasal dari arsip akumassa.
Biografi Penulis
Otty Widasari
OTTY WIDASARI adalah seorang seniman, penulis, sutradara, dan kurator. Saat ini, ia menjabat sebagai Direktur Program Pendidikan dan Pemberdayaan Media (AKUMASSA) di Forum Lenteng.
