









Pada Sabtu malam, 13 Februari, 2016, pasirputih menghelatkan penayangan film, berjudul Malin Kundang (1971) karya D. Djajakusuma. Malam itu, adalah penyelenggaraan ketiga dari Bioskop pasirputih, sebuah kegiatan yang termasuk ke dalam Program Pendidikan Dan Distribusi Pengetahuan milik pasirputih, dan juga menjadi bagian dari akumassa Chronicle di Lombok Utara. Program Bioskop pasirputih ini sendiri adalah wajah baru dari program Pekan Sinema yang dulu pernah dilakukan oleh pasirputih.
Pada penyelenggaraan Bioskop pasirputih yang pertama, 30 Januari, pasirputih menayangkan Elesan Deq A Tutuq (2013) karya Syaiful Anwar. Penyelenggaraan kedua, 6 Februari, pasirputih menayangkan Tiga Dara (1956) karya Usmar Ismail. Dalam tiga kali penyelenggaraan tersebut, film ditayangkan di ruang terbuka sehingga warga masyarakat di yang tinggal di sekitar kantor pasirputih dapat menonton secara gratis.
Film Malin Kundang ternyata sangat diminati oleh para penonton malam itu. Hal itu terbukti dari antusiasme mereka menonton hingga film berakhir. Hal itu berbeda dengan dua penyelenggaraan sebelumnya, yang mana suasana sudah menjadi sepi di tengah-tengah penayangan film. Hal ini menjadi catatan tersendiri bagi pasirputih untuk menayangkan film-film yang enak ditonton, tetapi tetap memiliki kualitas yang baik dari segi pengetahuan film dan kritik.
Pencatat peristiwa: Manshur Zikri
Biografi Penulis
akumassa
Program Pendidikan dan Pemberdayaan Media Berbasis Komunitas, atau biasa disebut AKUMASSA, adalah sebuah program pemberdayaan media yang digagas oleh Forum Lenteng sejak tahun 2008, berkolaborasi dengan komunitas-komunitas lokal di beberapa daerah di Indonesia untuk melaksanakan lokakarya dan memproduksi beragam bentuk media komunikasi (tulisan, gambar/foto, audio, dan video).
