Jurnal  ◦  Kecamatan: Cisarua  ◦  Kota/Kabupaten: Bogor  ◦  Provinsi: Jawa Barat  ◦  Workshop akumassa Bernas

Program Akumassa Bernas

AKUMASSA adalah program utama yang terus dikembangkan oleh Forum Lenteng untuk menciptakan tatanan  masyarakat yang sadar terhadap media. Melalui program ini, kesadaran warga dibangun untuk lebih peka terhadap isu-isu sosial, ekonomi dan budaya, sekaligus juga ditempa keterampilannya dalam memproduksi informasi secara independen dan kemudian mengelolanya menjadi sumber pengetahuan yang dapat disebarkan secara luas ke masyarakat.

Pertemuan hari pertama kegiatan pelatihan program akumassa bernas.
Pertemuan hari pertama kegiatan pelatihan program akumassa bernas.

Lebih kurang empat tahun, Program akumassa dijalankan oleh Forum Lenteng. Tahun 2008 hingga 2012, program ini berjalan di beberapa lokasi dalam bentuk kegiatan workshop selama satu bulan, dengan output berupa karya video akumassa. Setiap komunitas yang berpartisipasi dalam program ini—biasa disebut sebagai komunitas dampingan akumassa—juga memproduksi informasi dalam bentuk teks (tulisan) dan image (foto dan gambar) oleh para anggotanya, dan karya-karya itu dimuat di website online www.akumassa.id. Selain komunitas dampingan akumassa, ada juga para kontributor dari lokasi-lokasi lain, baik personal maupun komunitas, yang turut menyumbangkan karya tulisannya kepada jurnal online ini.

Rekam Media
Dokumentasi akumassa: Peluncuran Buku Rekam Media (April, 2013)

Bulan Februari, 2012, Forum Lenteng melakukan sebuah gebrakan dengan mencetuskan program pemantauan terhadap media massa arus utama yang beroperasi di tingkat lokal, yang disebut Program Rekam Media : Pemantauan Media Berbasis Komunitas. Program yang melibatkan sepuluh orang warga biasa sebagai pemantau media massa ini, rampung pada Bulan Februari 2013, dengan output berupa hasil penelitian tentang sajian media massa lokal, dan diterbitkan dalam bentuk buku, berjudul Kajian Terhadap Sajian Informasi Media Massa Lokal Melalui Lima Kategori Isu (Good Governance, Hak Asasi Manusia, Perempuan dan/atau Anak, Kriminalitas, dan Lingkungan Hidup) Dari Perspektif Akumassa, pada Bulan April 2013.

Dari kanan: Manshur Zikri, Anib Basatada Wicaksono, Albert Rahman Putra, Pijar Crissanti, Muhammad Sibawaihi
Dari kanan: Manshur Zikri, Anib Basatada Wicaksono, Albert Rahman Putra, Pijar Crissanti, Muhammad Sibawaihi

Gebrakan Forum Lenteng tidak berhenti sampai di situ. Setelah beraksi dalam wacana “literasi media” dan “kritisisme terhadap media”, Program akumassa melangkah lebih jauh untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas konten dan kemampuan penulis-penulis akumassa. Maka, pada pertengahan tahun ini, Forum Lenteng mencetuskan Program akumassa bernas: Liputan Mendalam Berbasis Komunitas, yang mana penyelenggaraan pelatihan program ini dilaksanakan tepatnya pada tanggal 20-23 Juli 2013, di Villa Radiant Bamboo, Jl. Raya Cidokom Pasir Kuta, Megamendung, Bogor (Puncak).

Program akumassa bernas: Liputan Mendalam Berbasis Komunitas memiliki fokus bagaimana menempa kemampuan para penulis akumassa untuk dapat memproduksi karya jurnalisme warga yang lebih baik dari segi konten. Tidak lain, tujuan yang hendak dicapai dari program ini ialah menghasilkan para penulis jurnalisme warga berwawasan dan bermental profesional, serta karya-karya tulisan mendalam yang diakui, dipercaya, dan diapresiasi serta disejajarkan dengan karya-karya jurnalisme profesional. Hal ini menjadi semacam usaha dari Forum Lenteng untuk menjawab tantangan bagi jurnalisme warga dalam menjawab keraguan terhadap karya-karya tulisan yang memiliki gaya dan perspektif dari perspektif warga biasa.

Firmansyah
Firmansyah

Dalam menjalankan program pelatihan ini, akumassa mengundang enam orang penulis akumassa yang berasal dari beberapa daerah (empat di antaranya adalah komunitas dampingan akumassa, dan satu komunitas di luar dampingan akumassa). Mereka adalah Albert Rahman Putra, dari Komunitas Gubuak Kopi, Solok, Sumatera Barat; Firmansyah, dari Komunitas Saidjah Forum, Lebak, Banten; Pijar Crissandi, dari Komunitas Kinetik, Surabaya, Jawa Timur; Anib Basatada Wicaksono, dari Komunitas Anak Seribu Pulau, Blora, Jawa Tengah; Muhammad Sibwaihi, dari Komunitas Pasir Putih, Pemenang, Lombok Utara; dan Manshur Zikri, dari perwakilan akumassa di Jakarta.

akumassa_program akumassa bernas_04
Otty Widasari, Koordinator Program akumassa sedang menjelaskan Program akumassa bernas.

Dalam kegiatan pelatihan tersebut, diundang dua orang pemateri yang sudah lama berkecimpung di wilayah kerja profesional, yakni Bambang Sulistyo dari Majalah Gatra, dan Linda Christanty, seorang sastrawan cum-wartawan, yang pernah menulis beberapa buku, salah satunya berjudul Jangan Tulis Kami Teroris. Selain itu, kegiatan pelatihan ini juga diisi oleh Otty Widasari, Koordinator Program akumassa, dan juga oleh Hafiz, Ketua Forum Lenteng.

Dalam beberapa hari ke depan, jurnal online www.akumassa.id akan memuat artikel yang fokus melaporkan perkembangan kegiatan pelatihan Program akumassa bernas, dan secara khusus tulisan yang mengulas proses pembelajaran yang berlangsung dalam kegiatan tersebut.

Biografi Penulis

Manshur Zikri

Manshur Zikri (lahir 1991 di Pekanbaru, Indonesia) adalah seorang seniman, kritikus, dan kurator yang saat ini berbasis di Yogyakarta dan Lombok Utara. Praktik lintas-disiplinnya mencakup riset artistik, strategi kuratorial, kerja editorial, serta produksi kultural eksperimental, dengan perhatian berkelanjutan pada wacana audiovisual dan sistem pengetahuan alternatif.

Ia merupakan lulusan Kriminologi Universitas Indonesia (2014) dan telah aktif terlibat dalam Forum Lenteng sejak 2009. Pada periode 2020–2022, Zikri menjabat sebagai kurator di Cemeti – Institut untuk Seni dan Masyarakat, berkontribusi pada praktik kepameran, program berbasis riset, serta pengembangan wacana institusional dalam ekologi seni kontemporer Indonesia.

Saat ini, Zikri memimpin Jurnal Footage, sebuah platform yang berfokus pada keterlibatan kritis terhadap budaya audiovisual. Ia juga terlibat dalam sejumlah inisiatif kolaboratif, antara lain Council of Ten, Situationist Under-Record, dan PROYEK EDISI, yang masing-masing menyelidiki keterjalinan sosial, historiografi performatif, serta ekologi media spekulatif melalui praktik kolektif.

Seiring dengan kerja kuratorial dan editorialnya, Zikri berafiliasi dengan 69 Performance Club dan dikenal melalui komentar kebudayaannya yang disebarluaskan lewat kanal TikTok @ngomendotcom, tempat ia bereksperimen dengan bentuk-bentuk kritik vernakular dalam ruang publik digital. Pada tahun 2025, ia bertindak sebagai kurator Bangsal Menggawe: Ando Kayuq Aiq, sebuah program budaya berbasis komunitas yang diinisiasi oleh Pasirputih di Pemenang, Lombok Utara—yang dirancang sebagai forum berkelanjutan bagi pengetahuan terletak, kosmopolitanisme rural, serta praktik seni lintas-generasi di wilayah pinggiran Indonesia.

One comment on “Program Akumassa Bernas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses