Lenteng Agung, Jakarta Selatan

Tontonan Kolonial yang Menjadi Tradisi

 

Dimulai dari zaman penjajahan Belanda di Indonesia, panjat pinang adalah acara yang dibuat poleh para penjajah sebagai bahan tontonan yang diadakan pada saat ada perhelatan besar seperti pesta pernikahan, kenaikan jabatan atau pesta ulang tahun.

12

dsc04479

dsc04476

dsc04474

Permainan ini tergolong seru dan mengundang banyak tawa, sebab batang pohon pinang yang tingginya mencapai 5-7 meter dilumuri cairan gemuk atau oli, yang meyebabkan pemanjat sangat kesulitan memanjat batang pinang yang menjadi licin.

dsc04465

dsc04468

dsc04470

dsc04491

Peserta harus berlomba-lomba meraih dan memperebutkan hadiah-hadiah yang tergantung di ujung atas pohon pinang. Mereka rela kepalanya diinjak, badannya ditindih, dan sebaliknya peserta lain tega menginjak dan menindih tubuh kawannya, demi mendapatkan hadiah-hadiah yang tak sebegitu mewah.

dsc04477

dsc04481

dsc04485

dsc04486

dsc04462

Di jaman penjajahan Belanda dulu, biasanya hadiah yang ditawarkan berupa keju atau gula. Sekarang sudah makin berkembang menjadi sepeda, peralatan dapur seperti kompor dan sebagainya. Mungkin tahun-tahun berikutnya akan ada motor atau mobil.

dsc04490

dsc04472

dsc044711

Awalnya lomba ini hanya diikuti oleh orang-orang pribumi kelas bawah, sementara para tuan tertawa-tawa menyaksikan mereka bersimbah peluh dan saling menginjak demi mendapatkan hadiah.

dsc044781

dsc044751

dsc04467

dsc04482

Namun kini, tradisi terus berlanjut sebagai perlombaan sekaligus tontonan khas tiap tahunnya dalam perayaan hari kemerdekaan bangsa kita.

dsc04487

dsc04488

dsc04480

dsc044901

Eko Yulianto

Biografi Penulis

Eko Yulianto

Dilahirkan di Jakarta pada tanggal 4 Juli 1983. Ia telah menyelesaikan studinya di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta. Sekarang ia bekerja sebagai producer di aliftv.

13 Comments on “Tontonan Kolonial yang Menjadi Tradisi

  1. Ini warisan Belanda yang berharga. Hadiahnya hanya bisa didapat kalau semua pesertanya bekerjasama (dalam bahasa “resminya”, gotong-royong). Kalau semua orang bersatu, satu orang yang paling atas kan bisa mengambil semua hadiahnya 🙂

  2. klo di fesbuk pake jempol disini..saya pake ajip…ekspresionis yang tidak teoritis (asal jeplak0 hahaha… maknyus mas…. hebat semua jempol !!! harusnya ngajar di robi darwis kotokopi.. hehehe..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses