Darivisual  ◦  Kecamatan: Pemenang  ◦  Kota/Kabupaten: Lombok Utara  ◦  Provinsi: Nusa Tenggara Barat

Sebelas Kisah dari Tenggara – “Prolog”

Tulisan ini adalah bagian dari buku Sebelas Kisah dari Tenggara yang ditulis oleh Muhammad Sibawaihi, Otty Widasari, dan Manshur Zikri, diterbitkan oleh Forum Lenteng pada tahun 2016. Dimuat kembali di situs web AKUMASSA dalam rangka rubrik “Darivisual”.


Tiap hari Kamis, sore menjelang malam, Masyarakat Budha dari Dusun Tebango, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, melakukan ritual membasuh diri di air laut Pantai Bangsal. Itu sudah dilakukan sejak dahulu. Masyarakat Hindu di Kecamatan Pemenang yang nenek moyangnya berasal dari Bali juga memiliki ritual keagamaan di Pantai Bangsal. Tiga hari (tilem kesanga) menjelang perayaan Hari Raya Nyepi, mereka melepas sesajen di tengah laut. Lautlah penghubung mereka dengan tradisi leluhur mereka di Pulau Bali sana. Sebagian besar masyarakat Pemenang yang mayoritas beragama Islam juga meyakini bahwa air laut menyembuhkan berbagai penyakit, dan membawa anak mereka yang sakit untuk membasuh diri di Pantai Bangsal. Intinya, pantai Bangsal yang luas adalah milik seluruh warga Pemenang untuk hidup, bersosialisasi dan menjalankan kepercayaan mereka masing-masing.

Peta Tiga Gili dan Lombok, Nusa Tenggara Barat. (Sumber gambar: User:(WT-shared) Burmesedays,OpenStreetMap [CC BY-SA 3.0 (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0)])
Peta Tiga Gili dan Lombok, Nusa Tenggara Barat. (Sumber gambar: User:(WT-shared) Burmesedays,OpenStreetMap [CC BY-SA 3.0 (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0)])

Saat ketiga gili (pulau kecil), Gili Air, Gili Trawangan, dan Gili Meno, berkembang pesat menjadi tujuan wisata domestik dan internasional, pelabuhan juga dikembangkan. Berbagai bangunan infrastruktur penunjang sektor pariwisata, dermaga beton, dan kawasan berlabuhnya perahu-perahu, alat transportasi umum yang melayani wisatawan, memakai teritori yang luas di bibir pantai. Masyarakat perlahan meninggalkan Bangsal. Ritual keagamaan dan kepercayaan tetap ada, menempati sebagian kecil pantai yang tersisa dan bisa dianggap tidak terlalu dikotori oleh limbah pariwisata dan bahan bakar kapal. Bangsal bukan lagi menjadi jantungnya masyarakat Pemenang. Hal ini memengaruhi mentalitas warga yang akhirnya terbiasa dengan sektor ekonomi pariwisata yang terus menerus merasuk ke sendi-sendi kehidupan.

Pariwisata bukannya kambing hitam dari situasi Pemenang saat ini. Namun, persinggungan perkembangan pariwisata dan budaya lokal adalah persoalan yang belum terkelola dengan baik di Pemenang.

Gili Trawangan

Di depan sebuah hotel, layar putih besar yang menghadap ke laut, sebuah proyektor sedang memproyeksikan film Transformer di sana. Beberapa orang tampak terlentang di atas kursi panjang. Khusyuk menonton adegan heroik sang Optimus yang bertarung melawan robot-robot yang lain. Sementara, saya dan teman-teman duduk dan berbincang ditemani beberapa cangkir kopi.

Pemandangan stasiun transportasi kapal feri di Gili Trawangan. (Foto: Magul [CC BY-SA 4.0 (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0)])
Pemandangan stasiun transportasi kapal feri di Gili Trawangan. (Foto: Magul [CC BY-SA 4.0 (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0)])

Suandi bercerita, bahwa suatu ketika, Si Bos memiliki seorang manajer yang tidak bertanggung jawab. Si Bos meminta manajer tersebut untuk membuat beberapa penginapan lokal dengan biaya yang cukup besar. Karena memang Si Bos tidak tinggal di Trawangan, dan hanya datang berkunjung beberapa kali dalam satu tahun, membuat Si Manajer tersebut nekat mengibuli majikannya sendiri. Sampai ketika Si Bos kembali ke Trawangan, bangunan yang diharapkan belum rampung, malah Si Tukang yang diminta mengerjakan bangunan tersebut, meminta tambahan biaya dari Si Bos. Si Tukang sendiri mengaku tidak mendapatkan bayaran yang sesuai.

Akhirnya, Si Bos menguji Si Manajer untuk membuat laporan pertanggungjawaban penggunaan dana. Satu, dua, tiga hari, satu minggu, sampai berminggu-minggu, laporan tidak juga selesai. Waktu itu, Suandi sebagai salah seorang staf, menjadi teman curhat Si Bos. Si Bos akhirnya meminta bantuan Suandi untuk mengurus keuangan. Karena Suandi sendiri tidak mengerti bagaimana membuat laporan keuangan, tanpa pengetahuan Si Bos, Suandi meminta temannya, Agus, untuk membantu permasalahan pelik yang sedang terjadi di perusahaan tempatnya bekerja.

Suandi kaget bukan main. Dia sampai tidak percaya apa yang dia lihat, manakala Agus membantunya membuat pembukuan tersebut. Hanya dalam hitungan jam, Agus menyelesaikan pembukuan, yang oleh Si Manajer belum bisa diselesaikan selama beberapa minggu itu. Agus pun mengajarkan Suandi hal-hal yang penting dalam mengelola dan membuat laporan keuangan.

Keesokan harinya, Si Bos juga sangat heran melihat hasil kerja Suandi. Si Bos tidak habis pikir, mengapa laporan dari Si Manajer tidak juga selesai. Akhirnya, Si Bos memutuskan untuk memecat Si Manajer dan digantikan dengan manajer baru. Awalnya, Suandi sempat ditawari. Namun, Suandi tidak berani memegang jabatan tersebut. Akhirnya, si Bos meminta bantuan Syahrir, kawan Suandi. Syahrir pun menyepakati, asal kawan-kawan yang lain mendukung dia memegang tampuk kepemimpinan tersebut.

Setelah sisa pekerjaan dari Si Manajer yang sudah dipecat selesai, Si Bos kembali ke negaranya, dan menyerahkan perusahaan tersebut kepada Syahrir, Suandi, dan kawan-kawan.

Sebagai pekerja, Syahrir, Suandi, dan kawan-kawan menjalankan tugas seperti biasa layaknya pekerja yang lain. Sedikit sekali komunikasi yang terjalin antara mereka dan Si Bos. Sesekali ketika Si Bos menelepon dan menanyakan kabar perusahaannya, Suandi dan kawan-kawan selalu berkata, “Beres Bos!”

Sampai suatu ketika, manakala Si Bos berkesempatan untuk kembali ke Trawangan, Si Bos mengumpulkan semua pekerja. Si Bos sangat heran, mengapa kondisi pekerjanya sekarang sangat gak neko-neko. Beda sekali dengan kondisi Si Manajer sebelumnya. Manajer sebelumnya banyak ide dan gagasan. Mau bikin ini-itu, mau mengubah ini-mengubah itu, dan berbagai ide-ide cemerlang lainnya. Kendati demikian, ide-ide yang ditelurkan tidak berjalan dengan baik, bahkan merugikan perusahaan. Sementara saat ini, tidak ada ide, tidak bikin ini-itu, namun kondisi perusahaan, terutama kondisi keuangan, aman-aman saja.

Syahrir, Suandi, dan kawan-kawan menjawab Si Bos dengan sangat sederana, “Ngapain kami capek-capek membuat sesuatu, yang nantinya bisa saja berdampak tidak baik bagi perusahaan. Jika Bos mau, Bos saja yang membuat ide, mau bikin apa, mau ubah apa. Nanti kami tinggal membantu.”

Kepolosan, atau mungkin strategi ‘masa bodoh’ yang diterapkan Suandi dan kawan-kawan berhasil memikat hati Si Bos. Kini, pengelolaan memang benar-benar dipercayakan kepada mereka. Maka, ketika Si Bos tidak ada, merekalah ‘bos’-nya.

Dulu, sebelum bekerja di dunia pariwisata, Aziz aktif berkegiatan di berbagai organisasi dan kelompok pemuda. Sepertinya, latar belakang berorganisasi ini, membuat hati Aziz terpanggil untuk membela kepentingan saudara sesama pekerjanya, di salah satu perusahaan di Trawangan.

Aziz merasa perlu mengambil sikap atas tindakan perusahaan yang terlalu memforsir pegawainya. Jam kerja yang tinggi namun apresiasi perusahaan rendah. Banyak kawan-kawannya yang mengeluh. Terlalu sering mendengar keluhan, akhirnya Aziz memberanikan diri ngomong dengan pemilik perusahaan. Membela hak-hak kawan-kawannya untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik.

Aziz menghadap ke Bosnya, ia menggugat. Mengajukan tuntutan atas nama semua kawan-kawannya. Namun naas bagi Aziz. Tuntutan yang ia ajukan tidak direspon oleh Si Bos. Si Bos kemudian mengumpulkan semua pekerja, menanyakan kepada mereka perihal tuntutan Aziz. Si Bos mengancam akan memecat mereka yang melawan. Akhirnya, tidak satu pun dari pekerja yang mendukung upaya Aziz untuk memperjuangkan mereka. Para pekerja diam. Aziz, tidak bisa melakukan apa-apa. Terlebih, sakit di hati Aziz, melihat teman-temannya tidak mendukung upayanya. Alih-alih mendukung, justru Aziz disalahkan atas tindakannya yang bsia merugikan kawannya yang lain. Si Bos memutuskan untuk memecat Aziz. Akhirnya Aziz keluar dari perusahaan tersebut.

Ini adalah realitas kehidupan pariwisata di Gili Trawangan. Menjadi pahlawan bukanlah sesuatu yang hebat dan membanggakan. Situasi bisa berbalik 180 derajat dari film Transformer, tentang kepahlawanan yang berakhir kemenangan. Ini bukan realitas film. Dan sang pahlawan tidak lebih adalah tumpukan sampah yang bisa merugikan.

Satu lagi kisah yang menarik, sebelum nantinya akan saya kaitkan dengan kenyataan yang berbeda di Pemenang. Suandi dan kawan-kawan, suatu ketika ingin membuat acara di pantai yang berada di depan tempat kerja mereka. Mereka ingin membuat semacam bangunan tidak permanen untuk melayani para wisatawan. Pada dasarnya, pembangunan di sepanjang pantai di Trawangan adalah ilegal. Beberapa watu yang lalu pun, Pemda Lombok Utara berniat menertibkan bangunan-bangunan yang marak di sepanjang pantai di Trawangan, namun justru bentrok dengan para pengusaha di sana.

Suandi baru saja menempelkan beberapa pengumuman di beberapa pohon cemara yang ada di pantai depan perusahaan tempat mereka bekerja, manakala sekumpulan remaja, mengatasnamakan kumpulan remaja, menolak aksi menggunakan pantai tersebut untuk kepentingan komersil. Alasan para remaja itu adalah, bahwa pantai tidak boleh dibangun bangunan apa pun. Suandi dan kawan-kawan menghentikan kegiatan mereka. Suandi lalu menanyakan mengapa mereka tidak boleh, sementara di depan mereka, puluhan bahkan ratusan bangunan berdiri permanen di sepanjang pantai Trawangan, namun tidak ada satu pihak pun yang menggugat.

Kelompok pemuda tadi tidak mau tahu. Pokoknya Suandi dan kawan-kawan tidak boleh membuat apa pun di pantai itu. Bahkan kelompok pemuda itu, mengancam akan menghancurkan apa pun yang ada di sana. Suandi menantang kelompok pemuda tadi untuk melakukan hal yang sama terhadap puluhan bangunan yang berdiri kokoh di sepanjang pantai Trawangan. Namun, para pemuda tersebut mengatakan, kalau bangunan yang ada sekarang, sudah mendapatkan izin. “Izin dari mana?” Tanya Suandi. “Lalu, apa karena kami warga lokal yang tidak memiliki uang untuk membayar, akhirnya tidak diperbolehkan? Mengapa bangunan-bangunan milik orang asing diperbolehkan?” Berbagai pertanyaan tersebut tidak mampu dijawab.

Di Trawangan, ada kekuatan besar yang sedang bermain dan menguasai Trawangan. Kekuatan itu membungkam siapa saja dan akhirnya, menghalalkan apa saja. Kekuatan ini, tidak hanya di Gili Trawangan. Namun juga sampai di Pemenang. Bagaimana kemudian terjadi banyak ketimpangan dalam laku kehidupan sosial masyarakat. Ini dunia pariwisata. Siapa yang berduit dan yang bekuasa, memiliki kekuatan sepenuhnya.

Satu contoh yang sering sekali saya rasakan, bahwa hal serupa terjadi juga di Pemenang adalah bagaimana kondisi Pelabuhan Bangsal. Yang kuat yang berkuasa. Yang banyak uang, jadi prioritas. Yang lemah, terpinggirkan. Yang tidak memberikan apa-apa, didepak jauh dari arena. Semua berorientasi pada uang. Tidak salah, tapi kurang tepat. Uang bisa menjadi utama, tapi yang menjadi lebih utama adalah kemanusiaan.

Hal inilah yang coba diusung oleh Pasirputih dalam keterlibatannya untuk AKUMASSA Chronicle, juga dalam perhelatan Pesat Rakyat Bangsal Menggawe 2016: Membasaq. Pasirputih ingin membuktikan bahwa warga berdaya, memiliki kekuatan mutlak di atas kekuatan apa pun. Kekuatan warga tidak diukur dari uang, tidak diukur dari kebendaan yang ia punya. Kekuatan masyarakat ditakar melalui kebersamaan dan rasa saling memiliki. Maka harusnya, kekuatan masyarakat bisa bernegosiasi dengan kekuatan sebesar apa pun. Kekuatan masyarakat bisa meruntuhkan rezim, bisa membungkan kediktatoran, bisa menghanguskan kekuatan uang dan bisa membuat kekuatan apa pun tidak berdaya.

Saya bisa membayangkan, andai saja kawan-kawan Aziz bersatu, memperjuangkan hak mereka bersama. Si Bos tentunya tidak bisa berbuat apa-apa. Peluang mereka mendapatkan hak mereka sebagai pekerja terbuka sangat besar. Tapi sekali lagi, ini adalah realitas pariwisata.

Maka, Pasirputih, lewat Proyek Seni AKUMASSA Chronicle yang digagas oleh Forum Lenteng, ingin mengajak masyarakat untuk kembali menyadari kekuatan mereka. Yakni, kekuatan akar budaya, kekuatan kebersamaan dalam keberagaman serta kekuatan saling menghargai dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

Itulah beberapa poin yang tampak dalam kehidupan masyarakat Pemenang. Sebuah kota yang masih memiliki kekuatan persaudaraan meskipun memiliki keyakinan yang berbeda. Kekuatan untuk saling membantu dan menolong meskipun masing-masing memiliki kesibukan dan kepentingan yang berbeda. Di Pemenang, tercermin bagaimana toleransi antarumat beragama terjalin sangat baik. Bahkan, masjid dibangun oleh umat dari tiga agama yang berbeda, yakni Budha, Hindu, dan Islam.

Di Kota ini, tidak pernah terjadi perselisihan antaragama, apalagi sampai terjadi peperangan. Di sini, setiap umat beragama memiliki ikatan persaudaraan yang kuat. Namun, memang tidak menutup kemungkinan, Pemenang yang harmonis ini, bisa tiba-tiba menjadi sangat individual, sangat egois, dan sangat arogan, manakala virus-virus pariwisata masuk dan menjalar ke seluruh tubuhnya.

Pasirputih, sebagai sebuah ide untuk menciptakan masyarakat Pemenang yang terus menjaga kebersamaan, keharmonisan, dan persaudaraan, merasa penting untuk mengikat lebih erat lagi semua yang sudah terajut sejak zaman berkuasanya Raja Bali Anak Agung Gede Agung. Maka, Pasirputih memulai rajutan itu dari Pelabuhan Bangsal. Mengapa Bangsal?

Pemenang, Dulu dan Sekarang

Hampir tidak ada jejak sejarah di Kecamatan Pemenang yang bisa dijadikan referensi tentang Pemenang. Belakangan, alasan ini baru saya ketahui dari keterangan salah seorang tokoh agama di Pemenang, Bapak Nengah Karuna, bahwa tidak mungkin Pemenang tidak punya adat dan catatan sejarah. Tapi, di mana fakta-fakta sejarah itu tersembunyi?

Sumber gambar: situs web Pemerintah Kabupaten Lombok Utara.

Menurut ingatan Pak Nengah Karuna, ketika saat bergantinya rezim pemerintahan di masa lalu, ada semacam pembenahan dalam tata kehidupan umat Islam Indonesia oleh Rezim Orde Baru. Berbagai kegiatan keagamaan yang bersifat lokal dan dianggap tidak sesuai dengan syariat agama, dihapus total. Itu terjadi di seluruh wilayah di Lombok Utara. Kabarnya, semua bukti sejarah kita dibuang.

Namun sebenarnya, beberapa bukti yang tersisa menunjukan adanya keterikatan yang kuat antara masyarakat Bayan, Sokong (Tanjung), dan Pemenang. Orang-orang menemukan lontar-lontar yang sama di ketiga lokasi tersebut. Selain itu, ditemukan juga lontar yang mengisahkan bagaimana penyebaran Islam di Lombok Utara, yang memuat kisah yang hampir mirip, dan disimpan di beberapa lokasi sakral di masing-masing tempat tersebut.

Beberapa orang yang mencoba mengungkap sejarah Lombok Utara mengatakan bahwa untuk beberapa tempat, jelas sekali sejarahnya. Namun, untuk sejarah Pemenang, itu masih rancu. Mungkin saja, Pemenang ada kaitannya dengan Syeikh Malaka yang datang meyebarkan Islam di Lombok Utara. Mungkin juga ada hubungannya dengan Bapuq Bayang, mungkin juga ada hubungannya dengan ekspansi Gajah Mada, setelah menaklukkan Bali, atau kemungkinan runtuhnya Majapahit yang akhirnya membuat beberapa pembesar Majapahit melarikan diri, hingga tibalah mereka di Lombok Utara ini. Namun, namanya juga ‘cerita’ sejarah, apalagi kita tidak punya bukti otentik untuk membuktikan cerita itu, semua bisa jadi benar, tergantung versi masing-masing. Jika kita ingin benar-benar menggali itu, menurut Pak Nengah Karuna, kita harus ke Museum Leiden, Belanda.

Kerancuan sejarah Pemenang, membuka peluang yang cukup lebar untuk analisa dan telaah sejarah. Berbagai opini pun beredar di masyarakat. Sah-sah saja. Akan tetapi, cerita belum tentu benar.

Masjid Kuno Bayan Beleq di Kecamatan Bayan.

Ada dua versi yang umum diketahui masyarakat tentang asal mula nama Pemenang. Pertama adalah versi yang saya dengar dari seorang tokoh pemuda di Pemenang, yang sempat melakukan penelitian tentang desa-desa yang ada di Lombok Utara, Herman Zohdi, S.Pd.I. Dia menjelaskan bahwa dari hasil peneltian beliau tentang Pemenang yang dilakukan pada kisaran tahun 1994, kata ‘pemenang’ berasal dari legenda Bapuq Bayang. ‘Bapuq’ dalam bahasa Indonesia berarti ‘kakek’, sedangkan‘bayang’ adalah julukan yang diberikan masyarakat kepada tokoh tersebut karena kesaktiannya yang bisa menggandakan diri atau membuat replika dirinya.

Suatu ketika, sebuah kerajaan ingin menyerang Pemenang. Saat itu, penguasa yang ada di Pemenang, yang masih ada kaitannya dengan Kerajaan Karang Asem yang ada di Cakra, merasa gusar. Namun, Bapuq Bayang, yang sedari lama sudah menjadi petugas keamanan di Pemenang, menyanggupi melawan serangan itu sendirian. Begitu serangan dari musuh datang, Bapuq Bayang menggandakan dirinya. Musuh menjadi gentar melihat begitu banyak prajurit yang siap meladeni mereka. Ahirnya, merasa kalah jumlah, musuh pun mundur, dan Pemenang memenangkan pertarungan tersebut. Dari Kemenangan itu, Bapuq Bayang dijuluki Pemenang, yang akhirnya menjadi nama Kecamatan Pemenang. (Dalam versi Nengah Karuna, Pemenang tidak diserang, namun Anak Agung-lah yang meminta pasukan—salah satunya Bapuq Bayang—untuk menyerang).

Kisah yang kedua, saya dapatkan dari seorang Mangku Ayu di Dusun Jeliman Ireng, Desa Pemenang Timur, Kecamatan Pemenang. Mangku Ayu tersebut bernama Bapak Jenalip. Beliau bercerita bahwa di Pemenang ada sebuah gong sakti. Gong tersebut sekarang berada di Dusun Jeliman Ireng. Suatu ketika, sebuah pasukan akan menyerang Pemenang. Warga Pemenang yang mengetahui akan adanya serangan dari musuh, melapor kepada semua masyarakat Pemenang. Maka, tetua Jeliman Ireng, yang mengetahui akan adanya bahaya, memukul gong tersebut. Begitu gong dipukul, bumi di mana para prajurit yang akan menyerang Pemenang itu berpijak, langsung bergetar, gempa terjadi, dan menewaskan banyak prajurit tersebut. Akhirnya, sang pimpinan prajurit memerintahkan untuk mundur, bahwa alam tidak mengizinkan mereka untuk menyerang Pemenang. Sejak saat itulah, kata Pemenang disematkan kepada lokasi yang berada di sebelah utara, berbatasan dengan Pulau Gili, dan di sebelah selatan berbatasan dengan Bukit Sinjong. Sebab, masyarakat Pemenang, sudah menang sebelum pertempuran.

Terlepas dari kerancuan sejarah itu, sekarang Pemenang menjadi sebuah kecamatan. Dahulu, Pemenang masih merupakan desa dan masuk ke wilayah Kecamatan Tanjung. Saat ini, Kecamatan Pemenang memiliki lima desa: Desa Pemenang Barat, Desa Pemenang Timur, Desa Malaka, Desa Gili Indah, dan Desa Persiapan Menggala. Pusat Kecamatan Pemenang, berlokasi di dua desa, yakni Desa Pemenang Timur dan Desa Pemenang Barat. Pusat kota Pemenang ini kemudian diistilahkan dengan Pemenang Kota.

Lalu, berbagai macam aktivitas kota Pemenang tercermin dari kawasan Pelabuhan Bangsal itu sendiri. Berbagai aktivitas masyarakat meramaikan Bangsal. Pagi harinya, akan kita temui berbagai kesibukan, mulai dari para buruh, penjual tiket, penjual suvenir, para penumpang, pemancing, kusir cidomo, dan berbagai aktivitas lainnya. Sementara di sore hari, akan kita jumpai anak-anak bermain di sepanjang pantai di Bangsal. Ada yang bermain bola, ada yang berenang, mencari kerang, dan yang paling mengesankan adalah bagaimana warga datang bersama keluarga menikmati pelecing kangkung di Bangsal.

Sejak dahulu, beragam aktivitas warga masyarakat Pemenang bisa dijumpai di Bangsal. Begitu juga dengan tiga agama yang ada di Pemenang. Tidak jarang kita temui aktivitas peribadatan dan ritual keagamaan dilaksanakan di sana.

Berdasarkan ingatan Pak Nengah Karuna, saat ia masih kecil dan kondisi Bangsal masih belum seperti sekarang, di mana hamparan pasir masih luas, serta bangunan permanen yang tidak banyak, saat bulan purnama dan bahkan hampir tiap malam, mereka bermain di Bangsal. Pak Nengah bersama kawan-kawannya bersuka ria di Bangsal.

Suasana sore hari di Pelabuhan Bangsal tanggal 24 Februari 2016.

Saya sendiri masih ingat, bagaimana dahulu saya dan kawan-kawan memiliki kenangan yang indah di Bangsal. Peristiwa-peristiwa menarik yang mewarnai masa kecil saya. Saya masih ingat saat dikejar anjing ketika kami melewati perkampungan umat Hindu di sebelah utara perempatan Pemenang. Masih terngiang suara boat man yang memarahi kami, saat melompat dari atas perahu. Juga bagaimana kaki dan tangan kami terbenam ke dalam pasir saat mencari kerang. Begitu juga, masih terasa pedasnya sambal pelecing kangkung di lidah kami, sembari kami menceburkan tubuh ke laut.

Ketika bapak saya pindah dari Lombok Barat ke Lombok Utara untuk menjalankan tugas sebagai guru sekitar akhir ’60-an, nama Bangsal memang sudah dipakai oleh masyarakat. Bapak juga tidak menampik kemungkinan makna Bangsal yang disematkan dalam kata Pelabuhan Bangsal memiliki arti yang sama dengan makna ‘bangsal’ yang dipakai dalam penyebutan sekumpulan ruangan di rumah sakit.

Dalam Kamus Bahasa Indonesia, kata ‘bangsal’ bisa bermakna: (1) rumah yang dibuat dari kayu untuk kandang, gudang, dsb; (2) los di pasar dsb; (3) rumah besar untuk pertunjukan, pertemuan, bermain-main, dsb; (4) barak; dan (5) bedeng (Kamus Bahasa Indonesia, 2008, hal. 135). Pelabuhan Bangsal sendiri, sejak dahulu kala, memang dijadikan sebagai lokasi berkumpul. Di Pelabuhan Bangsal, berbagai aktivitas perdagangan berlangsung.

Menurut Bapak, dahulu, di Bangsal ada banyak dibangun pondok-pondok (semacam lokasi pelelangan ikan). Semua jenis tangkapan ikan dari nelayan sekitar dijual di sana. Tidak hanya itu, Bangsal juga menjadi tempat menjual berbagai hasil bumi dari berbagai kawasan di sekitar Lombok Utara, seperti Tembobor, Nipah, Malimbu, Mentigi, dan Gili Ayer (sekarang Gili Air). Dulu, di Gili Meno dan Gili Trawangan, masih belum ada penduduk. Masyarakat menggunakan perahu, karena akses jalan raya belum ada. “Jalan ke arah Senggigi saja, itu dikerjakan pada tahun 1982. Bapak masih ingat, waktu pengaspalan, Bapak nenteng sepeda ke Nipah,” kata Bapak, bercerita.

Bapak juga masih ingat ketika sekolah, beliau diminta menghafal pulau-pulau kecil yang ada di Lombok. Untuk Tiga Gili yang ada di Kecamatan Pemenang, masing-masing dalam peta Pulau Lombok saat itu, tertulis: Gili Ayer, Gili Meno, dan Gili Trawangan. Selain itu, dari penjelasan Bapak juga, kami tahu bahwa di Lombok Utara dahulu terdapat empat Gili (pulau kecil). Satu pulau lagi yang belum tersebut di atas, adalah Gili Cupek. Saat ini, Gili Cupek lebih dikenal dengan kawasan Sira Indah. Karena faktor alam, air yang ada antara selat Gili Cupek dan pulau induknya, dalam hal ini adalah Pulau Lombok, menjadi surut.

Namun, itu terjadi jauh sebelum Bapak dilahirkan. Bapak sendiri mendengar kabar ini dari cerita orang-orang tua. Cupek sendiri diambil dari Bahasa Bali, yang berarti kecil. Dinamakan Cupek karena memang secara geografis, dari keempat Gili yang ada waktu itu, Gili Cupek adalah Gili yang paling kecil.

Setelah ikan dan barang dagangan lainnya dibawa ke Pemenang melalui Pelabuhan Bangsal, kemudian dijual di Peken Lauq (Pasar Utara). Lokasi tersebut adalah Perempatan Pemenang sekarang. Dari Bang BRI sekarang, ke selatan; dari jalan ke arah Bangsal, sampai gang menuju Gubuk Bali (nama perkampungan Hindu). Di situ, dulu, semua dagangan dijual. Kadang juga ada yang membawanya ke Teben (istilah orang Lombok Utara untuk menyebut kawasan Mataram).

Jadi memang, kawasan Pemenang Kota, dari dahulu kala, merupakan tempat bisnis bagi warga masyarakat di sekitaran Kecamatan Pemenang.

Bapak juga bercerita tentang seorang tokoh Pemenang yang dulunya dipercaya menjadi juru hubung antara pihak Jepang dan masyarakat Pemenang. Beliau dipanggil Bapuq Maing. Sewaktu kecil, saya dan kawan-kawan sepermainan, sering sekali dikumpulkan oleh Bapuq Maing, mendengar kisah-kisah beliau. Itu sekitar tahun 1995, saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Bagi kami saat itu, mendengar cerita Bapuq Maing adalah pengalaman yang luar biasa. Bapuq Maing tidak memberi kami kisah-kisah kepahlawanannya, misalnya berperang melawan penjajah. Melainkan, kisahnya sebagai pribumi yang tidak memiliki kekuatan saat itu, yang terpaksa patuh kepada penjajah, meski hatinya sangat ingin untuk membela diri dan masyarakatnya. Kisah-kisah itu, oleh Bapuq Maing, dikemas dengan humor yang sangat menghibur. Misalnya, tentang bagaimana ia mengelabui para penjajah dengan menggunakan Bahasa Sasak Lombok Utara. Sesekali ia memanggil para penjajah dengan kata-kata kotor. Semacam bentuk sakit hatinya. Begitu Si Penjajah bertanya artinya, segera ia artikan dengan kalimat yang baik. Selain bercerita tentang Belanda dan Jepang, sesekali kami berbaris seperti tentara yang siap untuk melawan. Dia mengeluarkan peringatan, seperti yang saya ingat, dalam bahasa Jepang. Dia mengajarkan kami cara berbaris gaya Nippon. Selain itu, ia mengajarkan kami beberapa kosakata Jepang yang ia tahu, seperti nomor-nomr dan benda-benda di sekitaran kami. Pada saat itu, seperti yang kami tahu, dia seperti guru bahasa dan sejarah yang sangat baik dan dikenal oleh anak-anak.

Dari cerita Bapak saya tentang Bapuq Maing, kami tahu, bahwa dahulu Bangsal juga pernah dijadikan Pos Hubung dan Pos Logistik untuk tentara Jepang yang ada di Trawangan. Trawangan sempat dijadikan benteng oleh Tentara Jepang. Jika saat ini kita berkunjung ke Trawangan, di bukit sebelah barat, akan kita jumpai sebuah gua yang dahulu menjadi markas Tentara Jepang. Masih ada tempat meletakkan meriam di bibir gua. Saya sempat ke sana, menyaksikan sisa-sisa sejarah. Meriamnya sendiri disimpan di Museum NTB, di Mataram.

Kembali lagi ke Bangsal. Penjelasan dari Bapak sama dengan penjelasan yang disampaikan oleh Nengah Karuna. Beliau juga menjelaskan, alasan mengapa masyarakat Pemenang menyebut kawasan pelabuhan itu dengan Bangsal, adalah karena memang masyarakat dahulu banyak berkumpul di sana. Bangsal tidak hanya menjadi lokasi berkumpulnya para penjual dan pembeli barang dagangan, tetapi juga memang beragam aktivitas budaya digelar masyarakat di sana. Misalnya saja, berbagai aktivitas keagamaan Umat Hindu yang ada di Pemenang, sering diadakan di Bangsal.

Apa yang tampak saat ini di Pelabuhan Bangsal, adalah cermin Bangsal di masa lalu meskipun, seiring berjalan waktu, banyak juga yang hilang di Bangsal. Apa-apa saja yang hilang dari Bangsal?

Pemandangan Pelabuhan Bangsal yang terlihat dari bukit Dusun Tebango Bolot, tanggal 29 Januari 2016. (Foto: Ismal Muntaha)

Garis Imajiner: Satu Tuhan, dan Tiga Cinta di Pemenang

Sejarah kerukunan umat beragam di Pemenang tidak dibuat-buat. Berdasarkan cerita yang berkembang dalam kehidupan masyarakat, bahwa memang di Pemenang, kerukunan ini sudah terjalin sangat lama. Pun saat Anak Agung Nengah Subagan dikirim oleh Anak Agung Gede Agung (Raja Karang Asem yang menguasai Lombok saat itu) untuk memimpin dan memerintah di Pemenang. Saat itu, memang, kebutuhan Anak Agung Gede Agung adalah untuk meluaskan kekuasaan di Lombok.

Namun, saat terjadi Perang Puputan, sebuah perang antara Kerajaan Karang Asem dan Uni Kedatuan di Lombok saat itu, Pemenang tidak terkena dampak peperangan tersebut. Sebab, Anak Agung Nengah Subagan memerintah dengan baik. Tidak membedakan antara agama Hindu, Budha, dan Islam. Bahkan,di dalam tulisan Rosmayadi, salah seorang penulis saat program AKUMASSA pertama kali dijalankan di Pasirputih, menurut narasumber yang ia wawancarai, Anak Agung Nengah Subagan mampu mengambil hati seluruh komponen masyarakat Pemenang yang terdiri dari tiga agama tersebut, serta melibatkan mereka dalam pengelolaan pemerintahannya.

Salah satu bukti keharmonisan umat beragama di Pemenang, tercermin dari Masjid Jamiul Jamaah Dusun Karang Pangsor. Secara harfiah, Jamiul Jamaah berarti kebersamaan masyaratakat. Di masjid itu, masyarakat Pemenang membuat tiga buah tiang yang melambangkan kebersamaan masyarakat. Masing-masing tiang dibangun oleh masing-masing agama.

Sampai saat ini pun, kebersamaan itu masih terasa. Jika kebetulan salah satu umat sedang merayakan upacara dan acara keagamaan, maka umat yang lain dengan senang hati ikut membantu kegiatan tersebut.

Secara syariat, setiap umat melaksanakan ibadah sesuai dengan ketentuan agama mereka masing-masing. Tapi dalam hal interaksi sosial, masyarakat Pemenang memiliki satu ‘tuhan’, yaitu ‘tuhan’ yang mencintai perdamaian. Maka, dalam hal keharmonisan umat beragama, Pemenang, sepantasnya muncul sebagai daerah percontohan kerukunan umat beragama.

Kesadaran ini yang ingin ditekankan oleh Pasirputih kepada pihak Pemerintah Daerah dan seluruh warga Pemenang, untuk tidak hanya memunculkan Tiga Gili sebagai ikon wisata, tetapi juga tiga agama di Pemenang, untuk menjadi acuan internasional dalam melihat bagaimana hidup berdampingan dalam perbedaan.

Namun, cerita keharmonisan umat beragama yang saya uraikan di atas, jangan dibayangkan sebagai sebuah cerita yang mulus tidak ada rintangan dan tantangan. Apalagi jika sedikit genit mengaitkan realitas dan fenomena di Pemenang saat ini dengan apa yang disebut Nietzsche dengan “kematian Tuhan”.

Dalam sebuah makalah yang ditulis oleh kawan saya, Anhar Putra Iswanto, saat menjadi pembicara di Program Kelas Wah Pasirputih (17 April, 2016), Anhar menulis bahwa sinisme ini sebagai bentuk kritik kepada realitas sosial, bahwa Tuhan telah “dibunuh” oleh kuasa absolutisme—yang sebetulnya adalah relativisme yang menjadi “Tuhan Baru” bagi manusia. Lebih lanjut, Anhar juga menulis tentang munculnya kritik Michel Foucault pada era ’60-an yang meramalkan “kematian manusia”. Bahwa, akan hilang konsepnya sebagai suatu kategori istimewa. Manusia akan kehilangan tempatnya yang sentral dalam bidang pengetahuan, pendidikan, kebudayaan, sosial, politik, agama, dan berbagai bidang kehidupan manusia lainnya. Foucault juga mengatakan bahwa manusia tidak akan menjadi penguasa, bahkan atas dirinya sendiri.

Tidak berlebihan, rasanya, sedikit mengutip apa yang jauh sebelumnya diungkapkan Neitzsche dan Foucault tentang kondisi zaman ini. Sebab, apa yang benar-benar tampak di Pemenang saat ini seperti menggiring masyarakat Pemenang menuju kehancuran itu. Pelan, tapi pasti. Sedikit demi sedikit, akar budaya, agama, persaudaraan, pendidikan, dan berbagai aspek kehidupan masyarakat Pemenang, digerogoti.

Masyarakat Pemenang yang menang sebelum bertanding, keharmonisan umat beragama, Bangsal sebagai titik berkumpulnya budaya lokal, keharmonisan dan keakraban, terasa menjadi semacam dongeng saja. Tidak benar-benar ada. Bahkan, untuk persoalan sampah saja, masyarakat Pemenang mesti menyerahkan dan menyalahkan pihak lain. Untuk menjamu tamu saja, masyarakat Pemenang sudah tidak lagi menggunakan kata-kata indah. Jangankan antaragama, dalam internal pemeluk agama saja, terjadi perselisihan dan perkelahian. Blueprint Pemenang dahulu, yang sempat diceritakan oleh orang-orang tua, tentang tata letak masing-masing dusun yang menguatkan satu sama lain, sekarang malah saling meruntuhkan satu sama lain, akibat sering terjadi perkelahian, hanya karena masalah pertandingan sepak bola, hanya gara-gara balapan liar dan mabuk-mabukan, bahkan saat pawai takbiran Lebaran Idul Fitri.

Kegamangan ini, saya sebut disebabkan oleh perbuatan ‘biang keladi’. Ada biang keladi di Pemenang yang tidak disadari oleh masyarakatnya. Ada biang keladi yang menggerogoti Pelabuhan Bangsal. Ada biang keladi yang masuk dalam gaya hidup anak muda. Ada biang keladi yang masuk dalam pengajian dan mantra-mantra agama. Biang keladi itu menjadi apa saja dan masuk di mana saja. Ia masuk ke dalam olahraga, pasar, sekolah-sekolah, bahkan ke dalam pikiran semua warga Pemenang. Biang keladi yang saya maksud adalah Industri Pariwisata.

Begitu Lombok Barat secara resmi melepas Lombok Utara menjadi kabupaten sendiri, harapan para pelaku wisata dalam hal promosi dan perbaikan Lombok Utara menjadi semakin terbuka. Apalagi kini, pariwisata adalah andalan utama program Pemerintah Kabupaten Lombok Utara. Dinilailah pariwisata menjadi salah satu faktor penentu kesejahteraan masyarakat. Tentu penilaian ini tidak benar-benar salah. Sebab, bagaimanapun, dalam rentan waktu yang cukup lama, tertanam dibenak warga tentang pariwisata.

Kecamatan Pemenang kemudian menjadi Gerbang Pariwisata Lombok Utara. Segala aktivitas harus dilatarbelakangi oleh landasan pemikiran untuk ikut menyukseskan pariwisata. Kegiatan pendidikan, untuk pariwisata. Kegiatan adat dan budaya, untuk mendukung pariwsata. Kesenian, disiapkan untuk menjadi tontonan pariwisata. Bahkan, agama pun dijadikan jualan pariwisata.

Dari Pemerintahan pusat sampai Pemerintahan dusun, semua menjadi latah dengan pariwisata. Semua menggunakan slogan “Visit Indonesia”, “Visit Lombok”, “Visit Sumbawa” dan berbagai “visit-visit” lainnya. Sekarang, muncul lagi slogan baru wisata di Lombok, yakni “Wisata Religi”, “Wisata Syariat”, dan “Wisata Halal”.

Muncul pertanyaan, untuk siapakah sebenarnya pariwisata ini? Apakah masyarakat benar-benar membutuhkan pariwisata? Bagaimana kita melihat dan menilai kisah-kisah tentang realitas-realitas ambigu yang saya tuliskan di atas? Tidakkah kita juga menimbang beragam konflik yang muncul diakibatkan oleh pariwisata? Bagaimana dengan kasus lahan-lahan warga yang sudah habis dibeli investor? Bagaimana dengan perkelahian warga lokal dan pendatang saat memperebutkan lahan-lahan basah di Trawangan? Lalu, sejauh mana kita bisa merasakan kondisi seniman-seniman tradisi di Pemenang, yang sampai saat ini belum juga menerima kesuksesan pariwisata? Dan, pertanyaan akhir, siapa yang benar-benar menikmati pariwisata?

Pariwisata Adalah Keniscayaan

Alam yang indah, tidak selamanya mendatangkan manfaat, apalagi jika sudah masuk tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Namun, masyarakat Pemenang setidaknya bersyukur diberikan bukit yang hijau serta hamparan laut biru yang indah, serta Tiga Gili dengan pasir putihnya yang bisa menarik siapa saja untuk datang.

Bahwa pariwisata adalah keniscayaan, tak ada seorang pun di Pemenang yang bisa menolak pariwisata, begitu juga Pasirputih. Maka, gerakan Pasirputih saat ini adalah menggerakkan masyarakat untuk merawat dan menjaga Pemenang, orang-orangnya, dan yang terpenting, menjaga alam dan lingkungannya.

Karena niscaya, maka pariwisata membutuhkan banyak perbaikan. Sebab, saya sangat sadar bahwa saudara, keluarga, tetangga, dan kawan-kawan saya banyak mencari nafkah di ranah tersebut. Dari merekalah keluhan-keluhan tentang pariwisata saya dapatkan.

Mereka mengeluh tentang kenyamanan wisatawan, tentang Bangsal yang semrawut, tentang mafia tiket, tentang buruh yang tidak melayani dengan baik, tentang narkoba, tentang prostitusi, dan berbagai permasalahan lainnya. Namun, alih-alih untuk memperbaiki permasalahan tersebut, Pemerintah justru secara besar-besaran lebih mempromosikan wisata. Ini lebih besar pasak daripada tiangnya.

Baru-baru ini, di surat kabar lokal, banyak yang menyoroti tiket palsu yang dilakukan oknum Koperasi Karya Bahari. Kemudian, dalam berita yang lain, dikabarkan juga Bendahara Dinas Pariwisata yang menghilang. Kabar lain, juga mengatakan bahwa ada Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata dikorupsi oleh Dinas Perhubungan. Sementara itu, dengan jumlah PAD dari pariwisata yang sangat besar, permasalahan bak sampah di Bangsal tidak kunjung selesai. Persoalan disiplin buruh, masih sekedar wacana. Seberapa banyak keuntungan pariwisata yang disalurkan untuk masyarakat Pemenang? Beberapa waktu yang lalu, saya bertemu dengan Sekretaris Daerah Lombok Utara. Beliau berkata, “Yang terpenting dari pariwisata kita sekarang adalah pembenahan. Tiga Gili itu, sudah selesai permasalahan promosi. Tapi sekarang, pembenahan yang terpenting.” Ungkapan ini kiranya baik untuk ditimbang.

Dalam sejarah Islam, kita mengenal istilah ‘hijrah’. Dari asal kata ‘Hajara’ yang berarti berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain. Hijrah terbesar dalam sejarah Islam dilakukan oleh Muhammad SAW dan pengikutnya menuju Yatsrib. Pada hari Jumat, tanggal 12 Rabi’ul Awal, bertepatan dengan 24 September 622 M, Muhammad SAW dan para pengikutnya tiba di Yatsrib, disambut kehangatan dan persaudaraan yang erat. Yatsrib sendiri, adalah sebuah kota yang tenang dan mempunyai tanah yang subur dan air yang banyak. Masyarakatnya adalah masyarakat petani dan pedagang. Yatsrib sendiri juga memiliki letak geografis yang sangat potensial sebagi jalur perdagangan. Jika kita ibaratkan Lombok Utara sebagai Yatsrib, maka ada kesamaan di antara keduanya. Lombok Utara memiliki tanah yang subur, masyarakat yang mencari nafkah dari hasil pertanian dan ladang. Yang terpenting, catatan khusus buat Pemenang, adalah ia menjadi lokasi strategis penghubung pariwisata (kawasan bisnis dan perdagangan).

Yang menarik dari cara kerja Muhammad SAW adalah bagaimana ia memadukan dua kekuatan besar. Yakni, kekuatan muhajirin (pendatang) dan kekuatan anshor (orang tempatan yang siap menolong). Dengan dua kekuatan besar tersebut, Yatsrib kemudian berubah nama menjadi Madinah Al-Munawwarah, kota yang penuh sinar. Dua kekuatan ini yang kiranya bisa kita lihat dalam proses kegiatan Proyek Seni AKUMASSA Chronicle di Lombok Utara.

Dimulai dari Bangsal

Bangsal adalah titik penting yang belakangan mulai ditinggalkan. Ia hanya dilalui, tidak dilirik lagi. Bangsal adalah tempat pemandian untuk membersihkan diri yang kita lupakan. Karena Bangsal dilupakan, maka Pemenang juga dilupakan, bahkan hingga ke permasalahan saluran air yang tidak beres, yang belakangan menyebabkan bencana di Pemenang: banjir bandang. Maka, Pasirputih, sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Pemenang, memiliki niat yang kuat, jangan sampai Pemenang kecolongan.

Pasirputih memulai dari Pelabuhan Bangsal. Sebuah titik yang sangat penting dalam sejarah masyarakat Pemenang. Sebuah titik yang menyimpan jutaan memori masyarakat sejak zaman pertama kali masyarakat Pemenang terbentuk. “Jika terjadi kebocoran atap rumah kita, maka segeralah mencari titik lubang yang bocor.” Itulah kiranya yang diwujudkan dalam Bangsal Menggawe 2016: Membasaq.

Pasirputih memiliki keyakinan yang kuat, bahwa Bangsal adalah obat itu. Karena memang di sana masyarakat Pemenang berobat dengan mandi air laut (membasaq). Tiga agama yang ada di Pemenang, kerap kali mengadakan ritual di sana. Berbagai organisasi sosial muncul dan tumbuh di sana. Bangsal Menggawe 2016: Membasaq mengajak seluruh masyarakat Pemenang untuk kembali bersuka cita di Bangsal. Kadang kita perlu menjauh dari sebuah benda untuk benar-benar bisa mengenalinya. Itulah yang terjadi di Pemenang. Kebesaran Gili membuat masyarakat lupa, bahwa sebenarnya mereka memiliki bintang yang bersinar terang. Bahwa Pemenang juga memiliki potensi yang besar, bukan untuk menjadi ‘gerbang wisata’ tapi untuk menjadi tujuan wisatawan. Dan saya rasa, yang paling penting adalah, sejarah Bangsal dan sejarah Pemenang yang selama ini terkubur oleh industri pariwisata, saatnya bangkit. Bangsal yang selama ini tidak dimiliki lagi oleh warga, saat itu benar-benar menjadi milik warga.

Ambiguitas Realitas

Sejak dahulu, menusia selalu menuntut keadilan atau ingin medapat perlakuan yang adil, dari siapa pun. Dimana-mana, selalu ada otoritas yang menindas kaum yang lemah dan minoritas. Ada orang-orang yang merasa memahami realitas sehingga mendominasi gagasan. Dalam hidup, realitas kadang sengaja dikaburkan untuk mencapai mimpi-mimpi tertentu. Selanjutnya, mereka-mereka yang merasa tertindas oleh dominasi dan otoritas, memberontak menuntut kesetaraan. Pemberontakan yang terjadi sepanjang sejarah dunia, tidak semata-mata sebuah gerakan untuk mendapatkan materi, tetapi lebih pada bagaimana manusia hidup sejajar. Sejajar pada apa yang saya maksud, bukanlah penyeragaman, tapi penghargaan terhadap orang lain.

Dalam hal kasus Pemenang, saya hanya takut, bahwa kita selama ini membangun identitas fiktif masyarakat Pemenang dengan indutrialisasi pariwisata. “Adalah pretensi dan kecenderungan manusia belaka bahwa dia merasa bisa menemukan yang-identik dalam apa yang kaotis, merasa mampu menyeragamkan apa yang beragam. … ini adalah pretensi yang berbahaya karena dia menindas pluralitas senyatanya demi sebuah identititas-fiktif.” (Wibowo, 2004, hal. 122).

Tentu Pemenang bisa dirumuskan. Asal, pertimbangan pada apa yang kita sebut sebagai ‘berdiri sama tinggi dan duduk sama rata’ harus diutamakan. Sekali lagi, bukan pada ranah materi. Sebab, saya sendiri mempercayai bahwa gagasan-gagasan abstrak yang lebih sempurna dari realitas sendiri, manakala kita menimbang kualitas yang tersembunyi di balik sesuatu.

Ada ruh yang hilang oleh dentuman musik pesta pariwisata, oleh tembok-tembok hotel yang dibangun, oleh ‘biang keladi’ yang mengubah sosial menjadi individual. Itulah yang kini diperjuangkan oleh warga Pemenang: pemuda, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan mereka yang benar-benar mencintai Pemenang. Ruh itu adalah kesatuan Pemenang dalam keberagamannya.

Pemenang, 20 April, 2016.


Bibliografi

Sugono, D., Sugiyono, Maryani, Y., Qodratillah, M. T., Sitanggang, C., Hardaniwati, M., et al. (Penyunt.). (2008). Kamus Bahasa Indonesia (IV ed.). Jakarta: Pusat Bahasa.

Wibowo, A. S. (2004). Gaya Filsafat Nietzsche. (S. Dema, Penyunt.) Yogyakarta: Galang Press (Anggota IKAPI).

Biografi Penulis

Muhammad Sibawaihi

Dilahirkan di Desa Pemenang, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, pada tanggal 20 Mei 1988. Lulusan IKIP Mataram jurusan Bahasa Inggris. Ia adalah Direktur Program di Yayasan Pasirputih. Sehari-harinya ia juga aktif sebagai penulis dan kurator.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses