Darivisual  ◦  Kecamatan: Pemenang  ◦  Kota/Kabupaten: Lombok Utara  ◦  Provinsi: Nusa Tenggara Barat

Tubuh Intertidal di Masa Surutan

Artikel ini ditulis oleh Otty Widasari sebagai pengantar kuratorial untuk Bangsal Menggawe 2019: “Museum Dongeng”. Telah dimuat di situs web Pasirputih pada tanggal 23 Februari 2019, diterbitkan kembali di situs web akumassa dalam rubrik Darivisual.


Tubuh-tubuh Dalam Masa Periodik Pasang Surut

Aku terlahir dari perkawinan laut dengan pantai. Saat gelombang mempertemukan mereka, terdamparlah aku di hamparan luas, sebagai substrat yang bertaut pada substrat-substrat lain di pesisir.

Tubuhku berkembang dan berevolusi sesuai dengan alam lingkungan ini. Substrat keras mengandung kapur membantuku membentuk cangkang untuk melindungi tubuh lunakku yang serupa moluska dari terik matahari dan serangan predator. Semakin dewasa aku, kaki-kakiku mulai tumbuh, karena memang mereka harus tumbuh, dan ujungnya mencabang serta meruas serupa jemari, karena kehidupan membutuhkan jari-jemari. Tulang-belulang mengerangka dan aku pun bisa berjalan, karena harus berjalan, menghidupi situs pesisir ini.

Lalu tubuh ini menempati lokasi, tempat takdir berjudi dengan kawannya yang bernama  nasib. Beradaptasi dengan alam dan sistem yang hadir di lingkungan ini sejak lama. Sudah berabad tubuh ini tumbuh dan berkembang, berjalan dan mencari makan di sini menuruti semua sistem yang berlaku. Tubuh ini mengenali dua sistem yang ada. Sistem yang satu, mengharuskan tubuh menjalankan ritual yang sudah diturunkan berabad-abad dan dianggap membawa kebaikan untuk tubuh ini dan bisa hidup saling berkesinambungan dengan tubuh-tubuh lain. Menyesuaikan diri untuk bisa bersama-sama mencari makan dan terus berupaya untuk menjadi lebih baik lagi, dan menjadi lebih baik lagi. Saat sistem tradisi itu dirasa memang teruji ketangguhannya, rasanya sulit untuk mengubah pola dan bersinggungan dengan tubuh-tubuh baru yang datang dan pergi, juga dengan tubuh-tubuh yang datang dan menetap.

Sedangkan sistem yang lainnya, mengharuskan tubuh ini untuk patuh pada aturan wajib bertanda, bernomor, dan berinteraksi dalam koridor-koridor yang dijaga ketat dengan undang-undang. Mereka menurunkan definisi-definisi dan penyeragaman yang membawa lebih banyak lagi kebaikan-kebaikan baru. Sistem yang ini, lebih memudahkan bagi tubuh ini untuk berkembang dan mengalami banyak hal lain di luar dari apa yang selama ini dikenali oleh seluruh indra tubuh.

Namun kedua sistem tersebut terkadang membuat tubuh ini sungguh lelah, karena ia menuntut kerja mekanis organ yang harus terus bergerak tanpa henti untuk menghasilkan kebaikan. Ada kalanya tubuh membutuhkan sekadar bale-bale untuk berselonjor, menikmati angin sepoi di siang terik, sambil mengaktifkan hanya salah satu organ tubuh yang bisanya cuma berceloteh melulu: tentang apa yang terlihat dan teralami selama hidup. Momen selonjoran tersebut terkadang bisa menjadi pembacaan panjang tentang perubahan evolusi tubuh dan lingkungannya lewat dongeng-dongeng. Tubuh malas ini hanya ingin merenungkan datang dan perginya musim pasang tinggi dan pasang rendah secara beraturan, seiring dengan hilang dan penuhnya bulan di garis batas pesisir. Pasang surut teratur inilah yang menyebabkan tubuh ini ada.

Namun pula, ketidakmampuan tubuh ini untuk selalu secara teratur menjalani rutinitas kedua struktur sistem, maka terkadang tubuh ini menjadi seperti benalu. Maka sulit bagi tubuh ini untuk menautkan diri pada substrat tersistem untuk bersama-sama membuat hidup menjadi lebih baik. Akhirnya tubuh ini berkeliaran di sekitaran luar sistem, dan juga keluar masuk sistem untuk mempertahankan hidup dan anak-beranak yang terus tak terbendung kelahirannya. Berkeliaran bersama tubuh-tubuh lain yang mengalami nasib sama, dan terkadang tubuh-tubuh kami berkumpul bersama, berdongeng, berusaha bergabung untuk saling menjadi substrat yang bisa saling menopang.

Dongeng-dongeng ini yang membuat kami bertahan dalam lapar dan dahaga saat surut  mengandas di pasir panas, di masa periodik bulan hilang dan bulan penuh. Menanti gelombang pasang datang yang bisa memudahkan kami mencari makan, sambil berdongeng dan menjaga kewarasan kami.

Menjaga Kewarasan

Struktur tradisi yang tumbuh membudaya dalam sebuah masyarakat, dulunya tentu diciptakan untuk menjaga keharmonisan hidup bermasyarakat. Namun, ia kerap mengikat pencapaian hakikat kebahagiaan hidup manusia, karena dalam sebuah komunitas masyarakat, terutama yang hidup secara komunal, kepentingan tentunya selalu mengambil celah tersempit dalam rapatnya barisan penjaga tradisi. Demikian pula dengan sistem modern yang memiliki payung bernama pemerintahan dalam konteks negara-bangsa. Tak semua hakikat kebahagiaan tiap-tiap anggotanya dapat terpenuhi. Maka dari itulah tiap-tiap individu harus mengikuti barisan aturan-aturan yang ditetapkan. Sejarah diarsipkan, digunakan di hari esok untuk pembelajaran. Celah-celah sempit selalu menjadi peluang kepentingan kekuasaan untuk membodohi gamangnya sisi ambang batas masyarakat modern dengan tradisinya.

Lalu kemana perginya dongeng-dongeng penjaga kewarasan yang melindungi pucuk kepala dari siang-siang yang panas? Meredakan getar di dada warga dari malam-malam yang mencekam sesaat habis gempa? Mungkin dongeng-dongeng juga diarsipkan di dinding-dinding bilik bambu yang tidak hancur oleh guncangan berkali-kali, untuk digunakan nanti-nanti saja. Mungkin bisa digunakan nanti, saat hari hujan dan listrik padam, di mana saat itu dingin dan gelap bisa meredam kecanduan warga pada pertengkaran di media sosial.

Sebagaimana struktur tradisi berjalan di sisi sistem modern, mereka saling bersinggungan, berdukungan juga bertentangan. Saling mengisi satu sama lain untuk mengatur peri kehidupan masyarakat. Demikian pula dengan sejarah modern yang duduk bersisian dengan dongeng ingatan warga, untuk mengambil kesempatannya masing-masing mengisi kepala masyarakat dan menggetarkan hati mereka dengan konstruksi kejutannya masing-masing.

Sejarah dibukukan, diajarkan dalam kurikulum-kurikulum sistem yang tidak pernah terlepas dari relasi kekuasaan. Sedangkan dongeng-dongeng ingatan warga berkeliaran bak benalu di tiap-tiap substrat tersistem yang bisa membantunya bertahan hidup.

Layaknya organisme di zona intertidal yang hidup di antara garis batas surut terrendah dan pasang tertinggi, masyarakat Pemenang yang selalu berada di medan tarik-menarik sistem modern dan tradisi, memiliki karakter khas yang didorong oleh keharusan beradaptasi dengan semua imbas permainan politik, kekuasan, kerja media, dan perkembangan teknologi. Dongeng-dongeng ingatan warga yang bersifat distortif, terpelihara secara alamiah. Dongeng-dongeng itu menjaga warga dari guncangan keras yang selalu terjadi di luar tujuan masyarakat dalam usaha pencapaian hakikat kebahagiaan.

Bangsal Menggawe 2019: Museum Dongeng

Mengambil penataan waktu di sepanjang bulan Februari 2019, Bangsal Menggawe: Museum Dongeng diadakan dalam situasi pascabencana alam besar yang melanda Pulau Lombok tahun lalu. Kesadaran bahwa diri sebagai bagian dari sebuah sistem, masyarakat yang terdiri dari individu-individu merupakan entitas terlemah. Bila kita bayangkan kita sebagai manusia yang berdiri di atas sebuah lokasi, tanah tempat kita berpijak ini adalah tanah yang paling rentan di dunia. Indonesia berada di jalur gempa teraktif di dunia karena dikelilingi oleh Cincin Api Pasifik yang berada di atas tiga tumbukan lempeng benua, yakni Indo-Australia dari sebelah selatan, Eurasia dari utara, dan Pasifik dari timur. Walau kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai daerah yang sangat subur dan kaya akan sumber energi, namun tidak bisa dihindari jumlah besar korban dan kerusakan yang diakibatkan bencana alam yang datang bertubi-tubi menimpa beberapa kawasan di Indonesia.

Masyarakat tentu saja hanya bisa menggantungkan harapan keselamatan pada bangunan besar yang memayungi, yakni sistem pemerintahan. Bukankah ini merupakan hal yang mengkhawatirkan jika kita melihat bagaimana negara ini dinaungi oleh bangunan yang belum juga mampu mengatasi perpecahbelahan yang berakibat banyak kekhawatiran di hati masyarakat? Tarik-menarik antara berbagai kepentingan, politik, perkembangan teknologi, kerja media, dan kebutuhan hidup yang sempit dalam aturan-aturan, tidak juga membawa banyak kebaikan yang merata. Di tengah sibuknya bergerak untuk bertahan hidup, kadang masyarakat lupa ada hal-hal yang setara dengan dongeng bisa tetap menjaga kewarasan kita sambil terus larut dalam gelombang pasang yang membawa kita entah ke mana. 

Bangsal Cup, turnamen bola yang sudah dilaksanakan sejak tahun 2016, kembali berlangsung, kali ini dengan memajukan, mengedepankan para permain berusia di bawah 13 tahun. Juga seni Rudat yang sudah makin berkembang dengan gerakan sosialisasi senam rudat di berbagai kalangan. Bisnis televisi kabel warga yang sudah hancur oleh gempa kembali diaktifkan dengan skema yang lebih nonkomersil, menayangkan siaran-siaran yang dibuat oleh warga. Teater Isin Angsat, melakukan berbagai pementasan dengan estetikanya yang menggali konsep spec-actor-ship (kepenontonan dan keaktoran) di ruang-ruang privat, semi-publik dan ruang publik. Kesemua aktivitas itu akan digaungkan bersama di Pelabuhan Bangsal pada 2 Maret 2019. Terompet besar akan dibunyikan, memanggil semua warga Kota Pemenang untuk datang ke Bangsal dan menggawe (berpesta) bersama.

Berdasar pemikiran bahwa meningkatkan martabat warga masyarakat bisa dilakukan dengan mengaktivasi kesadaran keseharian, Bangsal Menggawe ke-3 yang sempat tertunda oleh bencana alam, kembali diadakan. Mengaktivasi diri dengan membangun kesadaran bahwa sekecil apa pun tindakan kita dalam keseharian adalah hal berarti dalam bergeraknya semua sistem yang bermuara pada kekuasaan. Bangsal Menggawe 2019 yang bertajuk “Museum Dongeng” kali ini membingkai segala sesuatunya yang berkeliaran di sekitaran luar sistem, di mana tidak ada koridor selain aturan untuk warga saling menjaga satu sama lainnya. Mengajak warga bergandegan tangan menuju Pelabuhan Bangsal, dan berdoa bersama demi kekuatan hati menghadapi dinding-dinding sistem modern yang lemah saat berhadapan dengan bencana alam. ***

Biografi Penulis

Otty Widasari

OTTY WIDASARI adalah seorang seniman, penulis, sutradara, dan kurator. Saat ini, ia menjabat sebagai Direktur Program Pendidikan dan Pemberdayaan Media (AKUMASSA) di Forum Lenteng.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses