Periode: 2016
Kegiatan: Residensi Seniman dan Produksi Karya Seni Berbasis Komunitas
Keluaran: Festival Bangsal Menggawe “Membasaq” dan Buku Sebelas Kisah dari Tengara
akumassa Chronicle adalah proyek seni yang digagas oleh Forum Lenteng, dengan melibatkan seniman dari berbagai disiplin, aktivis kebudayaan, penulis dan peneliti profesional, yang fokus pada satu tema yang berhubungan dengan persoalan sosiokultural di lokasi yang menjadi tempat proyek tersebut dijalankan. Proyek seni ini dikuratori oleh Otty Widasari (Direktur Program Pendidikan Media Berbasis Komunitas, Forum Lenteng) dan Arief Yudi (pendiri sekaligus pegiat Jatiwangi Art Factory).
Kepanitiaan
Organisasi
Forum Lenteng
Organisasi Kolaborator
Pasirputih
Fasilitator
Muhammad Gozali
Muhammad Sibawaihi
Manshur Zikri
Kurator
Otty Widasari
Arief Yudi
Partisipan
Ahmad Saleh Tabibudin
Baiq Ilda Karwayu
Bujangan Urban
Gelar Soemantri
Hujjatul Islam
Ismal Muntaha
Khairunnas Mahadi
Muhaimi
Syamsul Fajri
Sulung Widya Prasastyo
Syarief Rausanzani
Artikel Terkait
Artikel Feature
-
|
|
Catatan dari Bangsal Menggawe 2019: Museum Dongeng
Kami duduk di ujung pelabuhan. Riak ombak yang menenangkan di bawah kami hanya terganggu oleh motor yang lewat sekali-sekali di dekat pelabuhan Bangsal. Hari sudah gelap, gunung dan laut terasa…
-
|
|
Tubuh Intertidal di Masa Surutan
Mengambil penataan waktu di sepanjang bulan Februari 2019, Bangsal Menggawe: Museum Dongeng diadakan dalam situasi pascabencana alam besar yang melanda Pulau Lombok tahun lalu. Kesadaran bahwa diri sebagai bagian dari sebuah sistem,…
-
Pemberdayaan. Apakah Itu?
AKUMASSA secara spesifik meyakini seni sebagai strategi jitu untuk menggugah suatu keadaan sosial masyarakat agar lebih peka terhadap kebudayaan. Dalam konteks ini, AKUMASSA melihat bahwa seni adalah media, dan media…
-
|
|
Pertemuan Ilda dengan Identitas Pemenang
Lalu, apa bedanya masyarakat awam dengan masyarakat yang menyandang gelar seniman? Tidak ada. Mereka sama-sama warga masyarakat yang mendiami lokasi sosial. Peran warga adalah mengangkat martabat kehidupan bersama. Dan peran…
-
|
|
Pertemuan Bujangan Urban Dengan Bujangan Pemenang
Bujangan Urban mulai menebarkan ratusan bunga mataharinya yang berwarna-warni di tembok-tembok Pemenang. Hadi yang bernegosiasi agar tembok-tembok itu dibiarkan oleh pemiliknya untuk digambari. Disuarakan tentang keinginan semua orang bahwa mempolong…
-
|
|
Pertemuan Gelar Dengan Instalasi Kota
Saling Gitaq (saling lihat). Demikian mereka menamai program bank footage yang akhirnya kini terus berlangsung sebagai program reguler di TV kabel Wahid. Saling Gitaq yang dapat diartikan sebagai bacaan dari…
-
|
|
Pertemuan Pak Emy Dengan Anak-anak Karang Baru
Dalam aksi Pak Emy dan anak-anak Karang Baru, tidak ada romantisisme tentang pemanfaatan barang bekas. Kepekaan anak-anak terhadap hal itu diasah oleh Pak Emy sejak awal, untuk menyadari lingkungannya sendiri,…
-
|
|
Pertemuan The Broy Dengan Tongkat Estafet Pemenang
Kisah tentang bagaimana dulu Bangsal menjadi arena bermain seluruh warga Kota Pemenang, selalu menjadi pembicaraan yang didengar The Broy selama dia berada di Pemenang. Hilangnya berbagai aktivitas masyarakat pesisir karena…
-
|
|
Pertemuan Sulung Dengan Ibu, Sang Pemilik Tanah
Proyek kolaborasi yang dilakukan Sulung untuk AKUMASSA Chronicle sederhana saja, sebenarnya. Kelompok yang mengelola kearifan lokal punya rencana menyematkan teks dari kitab di rumah-rumah warga komunitas mereka, Sulung menawarkan diri…
-
|
|
Pertemuan Jatul Dengan Arsip Pemenang
Dalam kerja arsip Jatul, publik arsipnya memiliki bukan sekedar tendensi kolektif, tapi juga kesadaran kontribusi terhadap kebudayaan yang memang dibangun bersama, seperti hubungan petani dengan lumbung padinya.
-
|
|
Pertemuan Ismal Dengan Garis Lurus Imajiner
Ismal membangun dua buah gapura yang akan diletakkan di dua tempat. Satu di ujung dermaga Bangsal, dan satu lagi di depan vihara di atas bukit Dusun Tebango Bolot: sebagai dua…
-
|
|
Pertemuan Jabo dan Zakaria
Zakaria, maestro Rudat, dan Syamsul Fajri Nurawat, pegiat teater NTB. Pertemuan mereka menghasilkan sebuah diskusi tentang tindakan berwacana yang membayangkan seni tradisional—yang selama ini tampaknya diperlakukan sebagai barang antik—bisa hadir…
-
|
|
Pertemuan Asta dengan Bangsal Cup
Asta, si aktor monolog, mendapatkan pengalaman berharga tentang proses berkarya secara kolaboratif yang selama ini dilakukannya bersama kelompok teater, dan kali ini bersama warga biasa seperti dirinya, dengan cara membebaskan…
-
|
|
Pertemuan Nash dengan Bangsal
Di Bangsal, Nash bertemu dengan demografi profesi-profesi penghuni Bangsal. Pekerja jasa angkut pariwisata atau porter, kusir cidomo, pedagang Bangsal, dan orang-orang yang berseliweran di sekitar dermaga.
-
|
|
Sebelas Kisah dari Tenggara – “Prolog”
Tentu Pemenang bisa dirumuskan. Asal, pertimbangan pada apa yang kita sebut sebagai ‘berdiri sama tinggi dan duduk sama rata’ harus diutamakan. Sekali lagi, bukan pada ranah materi. Sebab, saya sendiri…
-
|
|
Melihat Lombok Lewat Bangsal Menggawe
Mengalami segelintir bagian dari Bangsal Menggawe bukan cuma memberi kesenangan bergaul dengan warga dalam konteks yang tidak transaksional, tapi juga menambahkan kosakata-kosakata baru saya mengenai Lombok. Inisiasi organik ini malahan…
-
|
|
Kembali Ke Bangsal; Kembali Ke Kehidupan
Bangsal kini telah hidup dan bergerak. Pemangku-pemangku kebijakan telah dicubit untuk melek budaya. Warga menemukan kembali tempat permandiannya. Semoga saja dengan kepemilikan atas Bangsal Menggawe itu, Bangsal tidak akan sendirian…
-
|
|
Menggali Potensi Visual Lombok Utara: Catatan Lapangan yang Sayang Dibuang
Menginjakkan kaki pertama kali di Gedung TES Tsunami, saya melihat banyak sekali pekerja. Gedung itu luas, besar dan berlantai empat. Tiang-tiang penyangganya pun besar-besar dan terlihat kokoh.
-
|
|
Mencari Ruang, Mencari Rumah
Tanah dan ruang-ruang kita bukanlah tanah dan ruang bermuka “horor”, seperti yang dialami orang-orang macam Banksy di seberang lautan sana. Tanah di lingkungan masyarakat kita masih ada tradisi “pemakluman” asalkan…
Artikel Dokumentasi
-
Membuat Rengka
Beberapa malam yang lalu, Sibawaihi berkunjung ke Gerbong Tua, sebuah komunitas pemuda di Dusun Karang Desa, yang bergerak di berbagai bidang sosial.
-
Kompetisi Bangsal Cup
Sejak tanggal 21 Februari, 2016, dilaksanakan pertandingan sepak bola pantai, Bangsal Cup 2016, yang digagas oleh Ahmad Saleh Tabibuddin a.k.a Asta untuk akumassa Chronicle.
-
Bujangan Urban Terus “Membombardir” Tembok-tembok di Bangsal
Tanggal 18 Februari, 2016, Bujangan Urban membuat karya grafiti di TK Pembina, Kecamatan Pemenang. Skala karya grafiti ini cukup besar.
-
Meninjau Pelabuhan Bangsal
Pada tanggal 24 Februari, 2016, kurator akumassa Chronicle, Otty Widasari, melakukan peninjauan lokasi di Pelabuhan Bangsal untuk mengatur artistik dari Bangsal Menggawe 2016: Membasaq.
-
Lalo Bak Nempran: Mural The Broy Tentang Masyarakat Pesisir
Sejak tanggal 22 Februari, 2016, Syarief Rausanzani a.k.a The Broy menggarap tembok-tembok rumah yang berada di Jalan Bangsal Baru.
-
Penayangan dan Diskusi Karya Video Gelar
23 Februari, 2016, Gelar Soemantri mempresentasikan proyek seni video yang dikerjakannya untuk akumassa Chronicle, berkolaborasi dengan tiga orang anggota pasirputih, Humaedi, Hamdani, dan Rusli.
-
Pertunjukan Pemenang Merudat #2
Tanggal 21 Februari, 2016, Syamsul Fajri a.k.a Jabo kembali berkolaborasi dengan Zakaria (Sanggar Seni Panca Pesona) melakukan pertunjukan seni tradisional rudat.
-
“Words To Mother” di Pasar Pemenang
Hari Kamis, 18 Februari, 2016, Pasar Pemenang belum tampak lebih bersih dari hari-hari sebelumnya, tetapi tugu yang dihias oleh Sulung Widya Prasastyo (salah satu partisipan akumassa Chronicle) sudah terlihat lebih…
-
Pertunjukan Pantomim Kedua Nash
Pada tanggal 16 hingga 18 Februari, 2016, Khairunnas Mahadi a.k.a Nash Ja’una melakukan pertunjukan pantomimnya yang kedua di Bangsal dalam rangka kegiatan akumassa Chronicle. Ada tiga judul karya yang ia…
-
Mensilaq Polong Renten
Kamis, 18 Februari, 2016, Ahmad S. Tabibuddin melakukan pertunjukan monolognya sekaligus menyebarkan pengumuman terkait kegiatan Bangsal Cup yang menjadi proyek karyanya untuk akumassa Chronicle.



























